Integrasi Kecerdasan
Aritfisial Teachable Machine pada Pembelajaran Mendalam Biologi pada
Materi Struktur dan Fungsi Jaringan Tumbuhan
Oleh: Dida Firgiawan, M.Pd
Guru SMA Negeri 8 Bandung
I. Situasi
A. Latar
Belakang
Sebagai guru di SMA, saya menghadapi
tantangan umum dalam pembelajaran materi struktur dan fungsi jaringan tumbuhan,
di mana sebagian besar siswa kesulitan mengaitkan konsep teoretis dengan
penerapan nyata. Berdasarkan hasil observasi kelas dan asesmen formatif,
sekitar 68% siswa masih mengalami kebingungan dalam membedakan jenis jaringan
tumbuhan melalui pengamatan mikroskopis, dan 72% siswa merasa pembelajaran
kurang menarik karena hanya berpusat pada ceramah dan gambar statis dari buku
teks. Kondisi ini menimbulkan kebutuhan untuk menciptakan pengalaman belajar
yang lebih bermakna, kontekstual, dan berbasis teknologi modern.
Dalam konteks kurikulum nasional yang menekankan pembelajaran mendalam (deep learning), saya merancang kegiatan berbasis AI (Artificial Intelligence) menggunakan Teachable Machine. Melalui platform ini, siswa dapat melatih model kecerdasan buatan untuk mengenali dan mengklasifikasi berbagai jenis jaringan tumbuhan seperti jaringan epidermis, parenkim, kolenkim, dan xilem-floem berdasarkan citra mikroskopik. Proses ini tidak hanya memperkuat pemahaman konsep biologi, tetapi juga menumbuhkan literasi digital, kreatifitas, dan 8 dimensi profil lulusan.
B. Mengapa Karya Best Practice ini penting?
Praktik ini penting untuk dibagikan karena
menunjukkan bagaimana AI dapat diintegrasikan secara sederhana namun bermakna
dalam pembelajaran Biologi, sehingga Saya dapat bertransformasi dari sekadar
pengajar menjadi fasilitator pembelajaran yang inspiratif dan inovatif. Selain
itu, siswa tidak hanya menjadi penerima pengetahuan, tetapi juga pencipta
teknologi pembelajaran, yang menumbuhkan rasa ingin tahu, tanggung jawab, dan
kemandirian belajar.
Sebagai Guru, peran dan tanggung jawab saya dalam praktik ini adalah sebagai perancang, fasilitator, sekaligus pembimbing digital. Saya merancang alur kegiatan berbasis prinsip berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan, mengarahkan siswa untuk memahami (understand) konsep jaringan, mengaplikasikan (apply) dalam proyek klasifikasi AI, dan merefleksikan (reflect) hasil serta proses pembelajaran. Dengan demikian, saya berperan aktif dalam menumbuhkan 8 dimensi profil lulusan yang beriman, mandiri, bernalar kritis, kreatif, dan kolaboratif melalui penerapan teknologi cerdas dalam konteks biologi nyata.
II. Tantangan
A. Permasalahan
Kesulitan yang di hadapi
Dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran
agar siswa memahami dan mampu mengklasifikasi jaringan tumbuhan melalui
pendekatan berbasis kecerdasan artifisial, terdapat beberapa tantangan yang
harus dihadapi di tingkat kelas maupun sekolah.
Tantangan pertama muncul dari kesiapan
digital siswa. Berdasarkan survei awal, sekitar 60% siswa belum familiar dengan
konsep AI (Artificial Intelligence) dan menganggapnya sesuatu yang
kompleks serta hanya relevan dengan bidang teknologi, bukan biologi. Hal ini
menimbulkan rasa ragu dan rendahnya kepercayaan diri untuk mencoba. Selain itu,
beragamnya kemampuan literasi digital di antara siswa menyebabkan ketimpangan
dalam kecepatan adaptasi terhadap penggunaan platform Teachable Machine.
Tantangan kedua berkaitan dengan sarana
dan infrastruktur sekolah. Tidak semua perangkat komputer di laboratorium
Biologi memiliki spesifikasi yang optimal untuk memproses data gambar dengan
lancar, terutama ketika siswa mengunggah dan melatih model citra jaringan
tumbuhan. Selain itu, keterbatasan akses internet yang tidak selalu stabil
menjadi hambatan saat proses pelatihan model AI dilakukan secara daring.
Dari sisi pedagogis, tantangan ketiga
adalah mengubah pola pikir pembelajaran tradisional menjadi pembelajaran aktif
dan berpusat pada siswa (student-centered). Sebagian siswa terbiasa
dengan pendekatan hafalan dan belum terbiasa melakukan eksplorasi mandiri. Hal
ini menuntut peran Saya untuk menuntun mereka berproses secara bertahap dengan
strategi scaffolding digital learning agar pembelajaran tetap inklusif
dan tidak membuat siswa yang kurang mahir merasa tertinggal.
B. Pihak-pihakyang
terlibat
Pihak-pihak yang terlibat dalam menghadapi dan
mengatasi tantangan tersebut meliputi:
·
Saya sebagai perancang dan fasilitator
pembelajaran berbasis AI;
·
Siswa kelas XI IPA sebagai peserta aktif
yang berperan dalam pengumpulan, pelabelan, dan pelatihan data citra jaringan
tumbuhan;
·
Guru TIK yang membantu memberikan
pendampingan teknis terkait penggunaan perangkat digital;
·
Kepala sekolah dan tim kurikulum, yang
memberikan dukungan kebijakan dan sarana pembelajaran inovatif; serta
·
Rekan sejawat sesama guru sains, yang ikut
berkolaborasi dalam refleksi
Tantangan-tantangan
tersebut menjadi pijakan penting untuk menciptakan strategi aksi yang tepat
agar inovasi pembelajaran ini tidak hanya berhasil diterapkan secara teknis,
tetapi juga berdampak secara pedagogis dan transformatif terhadap cara berpikir
dan belajar siswa.
III. Aksi
A. Strategi,
Inovasi atau Solusi yang dilakukan
Untuk menghadapi tantangan dalam penerapan
pembelajaran mendalam berbasis kecerdasan artifisial pada topik struktur dan
fungsi jaringan tumbuhan, dilakukan serangkaian langkah strategis,
inovatif, dan kolaboratif yang terencana dengan pendekatan pembelajaran
mendalam (deep learning) dan prinsip berkesadaran, bermakna, serta
menggembirakan.
1.
Perancangan Pembelajaran Berbasis AI (Kecerdasan Artifisial)
Saya merancang pembelajaran menggunakan
kerangka praktik pedagogis, kemitraan pembelajaran, lingkungan pembelajaran,
dan pemanfaatan digital.
Tujuan utama adalah agar siswa tidak hanya mengenal struktur jaringan tumbuhan,
tetapi juga mampu mengklasifikasikannya secara mandiri menggunakan machine
learning. Rencana pembelajaran disusun dalam RPP dan LKPD digital yang
memandu langkah-langkah eksplorasi, eksperimen, hingga refleksi.
2.
Orientasi dan Pengenalan Konsep
Langkah awal dilakukan dengan memberikan pengantar
kontekstual mengenai peran AI dalam kehidupan sehari-hari (misalnya pengenalan
wajah, rekomendasi musik, klasifikasi citra pada pertanian modern). Siswa
kemudian diajak berdiskusi mengenai keterkaitan AI dengan biologi melalui
pertanyaan pemantik:
“Bagaimana
AI dapat membantu ilmuwan mengidentifikasi jaringan tumbuhan dengan cepat dan
akurat?”
Melalui
diskusi ini, literasi digital dan rasa ingin tahu siswa mulai tumbuh.
3.
Pelatihan dan Demonstrasi Teachable Machine
Saya melakukan demonstrasi langsung
penggunaan platform Teachable Machine (https://teachablemachine.withgoogle.com/)
dengan tahapan:
·
Mengambil foto mikroskopis jaringan
tumbuhan (epidermis, xilem, floem, parenkim, kolenkim, sklerenkim).
·
Mengunggah gambar ke Teachable Machine
dan memberi label kategori jaringan.
·
Melatih model AI hingga muncul hasil
prediksi akurasi.
·
Mencoba hasil pelatihan untuk mengklasifikasi
gambar baru.
Tahapan ini
menunjukkan keterhubungan antara Biologi, Teknologi, dan Komputasi, sekaligus
menumbuhkan computational thinking.
4.
Kolaborasi dan Pendampingan
Saya berkolaborasi dengan guru TIK dalam
memberi pelatihan teknis singkat agar seluruh siswa dapat mengakses platform
dengan lancar. Sementara Saya berperan sebagai fasilitator ilmiah yang
memastikan klasifikasi tetap valid secara biologis.
Siswa bekerja dalam kelompok kecil (6 orang) untuk membangun proyek klasifikasi
jaringan, sekaligus belajar kolaborasi dan tanggung jawab sosial dalam
pembelajaran digital.
5.
Implementasi Pembelajaran Mendalam (Deep learning)
Kegiatan
belajar difokuskan pada tiga tahap pengalaman:
·
Memahami: siswa mengidentifikasi ciri
morfologi jaringan tumbuhan dan fungsi biologisnya. Pertama dalam kegiatan praktikum
kemudian lanjut dalam kegiatan diskusi.
·
Mengaplikasi: siswa menggunakan Teachable
Machine untuk melatih model AI dan menganalisis hasilnya untuk menguatkan
konsep yang didapat setelah praktikum
·
Merefleksi: siswa menuliskan pengalaman,
kesulitan, dan manfaat belajar dengan teknologi AI.
Refleksi
dilakukan secara individu maupun kelompok untuk menumbuhkan kesadaran belajar
dan growth mindset.
6.
Evaluasi dan Pemanfaatan Hasil
Hasil
pembelajaran dievaluasi menggunakan rubrik berbasis proyek yang menilai tiga
aspek:
1. Kemampuan
literasi digital
2. Kreativitas
dan kolaborasi digital
3. Pemahaman
konseptual jaringan tumbuhan
Saya
juga menggunakan data hasil klasifikasi AI sebagai bahan refleksi untuk
meningkatkan akurasi dan validasi biologis.
7.
Sumber Daya dan Dukungan
Pelaksanaan
strategi ini memanfaatkan:
·
Perangkat laptop/smartphone siswa
·
Mikroskop digital atau foto jaringan
tumbuhan
·
Koneksi internet sekolah
·
Platform Teachable Machine (gratis)
·
Panduan digital pembelajaran Biologi
berbasis AI
·
Dukungan dari kepala sekolah, guru TIK,
dan rekan sejawat Biologi
IV.
Refleksi
A.
Dampak dari Aksi yang Dilakukan
Penerapan pembelajaran berbasis Artificial
Intelligence melalui Teachable Machine memberikan dampak positif
yang signifikan terhadap kualitas pembelajaran Biologi.
Siswa menunjukkan peningkatan motivasi belajar sebesar ±85%, berdasarkan hasil
survei reflektif setelah kegiatan. Mereka merasa lebih tertantang, senang, dan
bangga karena bisa belajar Biologi dengan teknologi yang biasa digunakan
ilmuwan atau profesional di dunia nyata.Selain itu, hasil penilaian menunjukkan
rata-rata capaian kompetensi meningkat 56 % dibandingkan pembelajaran
konvensional sebelumnya.
Dampak lainnya adalah tumbuhnya kemampuan literasi
digital. Siswa mulai memahami bagaimana struktur jaringan tumbuhan berperan
penting dalam keberlangsungan hidup organisme dan bagaimana teknologi dapat
digunakan untuk menjaga keberlanjutan ekosistem.
1. Peningkatan
Penguasaan Konsep Jaringan Tumbuhan
|
Nilai
rata-rata Pre
Tes |
Nilai
Rata-rata Pos
Tes |
N-Gain |
Kategori |
|
50,01 |
88,06 |
0,77 |
Tinggi |
2. Penilaian
Literasi Digital
|
Kelompok |
Ketepatan Dataset |
Akurasi
Model AI |
Analisis Hasil |
Kreativitas Tampilan |
Refleksi |
Total
Skor |
Nilai
Akhir |
Kategori |
|
1 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
20 |
100 |
Sangat
Baik |
|
2 |
3 |
3 |
4 |
4 |
3 |
17 |
85 |
Sangat
Baik |
|
3 |
4 |
4 |
4 |
3 |
3 |
18 |
90 |
Sangat
Baik |
|
4 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
15 |
75 |
Baik |
|
5 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
20 |
100 |
Sangat
Baik |
|
6 |
3 |
2 |
3 |
3 |
2 |
13 |
65 |
Cukup |
|
Kategori |
Jumlah
Kelompok |
Jumlah
Siswa |
Rata-rata
Nilai |
|
Sangat
Baik |
4 |
24 |
93,75 |
|
Baik |
1 |
6 |
75 |
|
Cukup |
1 |
6 |
65 |
Rata-rata
keseluruhan kelas (100+85+90+75+100+65) =85.83
6
Rata-rata
kelas = 85,83 (Kategori: Sangat Baik)
B.
Langkah Reflektif dan Hasilnya
Langkah-langkah
yang dilakukan meliputi:
·
Mengobservasi perubahan perilaku belajar
siswa setelah integrasi AI.
·
Menganalisis peningkatan hasil proyek
klasifikasi jaringan menggunakan rubrik kinerja.
·
Melakukan feedback session bersama
siswa dan guru kolaborator (TIK).
Hasil refleksi menunjukkan bahwa strategi
ini efektif, karena pembelajaran menjadi lebih kontekstual, kolaboratif, dan
menumbuhkan kemandirian belajar. Siswa lebih aktif bertanya, berdiskusi, dan
mencoba memecahkan masalah dengan pendekatan ilmiah dan digital.
C.
Respon dari Pihak Lain
Respon
terhadap strategi pembelajaran ini sangat positif.
·
Siswa
mengaku belajar menjadi lebih menyenangkan dan relevan dengan dunia modern.
Mereka merasa belajar Biologi tidak lagi hanya menghafal, tetapi “mencipta
dan bereksperimen.”
·
Guru sejawat
terinspirasi untuk mencoba penerapan serupa pada mata pelajaran lain, seperti
Ekonomi, Geografi, dan Fisika.
·
Kepala sekolah memberikan
apresiasi karena praktik ini mendukung kebijakan Sekolah Digital dan Merdeka
Belajar sekaligus memperkuat dimensi Profil lulusan.
·
Orang tua siswa
juga menyampaikan kebanggaan karena anak-anak mereka menjadi lebih antusias dan
percaya diri dalam mempresentasikan hasil pembelajarannya.
D.
Faktor Keberhasilan
Beberapa
faktor yang mendorong keberhasilan strategi ini antara lain:
·
Perencanaan yang matang dan kolaboratif
antara guru Biologi dan guru TIK.
·
Pemanfaatan teknologi yang sederhana namun
bermakna, karena Teachable Machine mudah diakses dan tidak memerlukan
keterampilan pemrograman tinggi.
·
Pendekatan pembelajaran mendalam (deep
learning) yang menggabungkan aspek berkesadaran, bermakna, dan
menggembirakan.
·
Keterlibatan aktif siswa dalam seluruh
proses, dari perencanaan proyek hingga refleksi hasil.
·
Dukungan lingkungan sekolah yang terbuka
terhadap inovasi digital.
E.
Faktor Hambatan dan Upaya Perbaikan
Beberapa hambatan yang muncul adalah
keterbatasan perangkat dan akses internet di beberapa kelompok siswa. Namun,
hal ini diatasi dengan berbagi perangkat secara kolaboratif dan menggunakan materi
gambar yang sudah disediakan guru.
Selain itu, pada awalnya beberapa siswa masih merasa asing dengan konsep machine
learning, sehingga guru perlu memberikan bimbingan lebih intensif di tahap
awal.
F.
Pembelajaran yang Diperoleh
Dari keseluruhan proses, pembelajaran
penting yang diperoleh antara lain:
·
Transformasi peran guru: dari pemberi
informasi menjadi fasilitator dan kolaborator pembelajaran.
·
Penerapan teknologi AI dalam pendidikan
harus berfokus pada pengembangan potensi manusia, bukan menggantikannya.
·
Pembelajaran mendalam dapat tercapai
ketika siswa mengalami proses memahami, mengaplikasikan, dan merefleksi
secara utuh.
·
Inovasi digital yang sederhana dapat
menjadi jembatan antara literasi sains dan kecerdasan artifisial dalam konteks
pembelajaran abad ke-21.
Dengan
demikian, praktik pembelajaran menggunakan Teachable Machine bukan
sekadar inovasi teknologi, tetapi wujud nyata dari pendidikan transformatif
yang menumbuhkan kemandirian, kreativitas, penalaran kritis, kolaborasi, serta
keimanan dan ketakwaan terhadap.
Tuhan
Yang Maha Esa. Inovasi ini membuktikan bahwa teknologi dan nilai kemanusiaan
dapat berjalan seiring untuk menciptakan pembelajaran Biologi yang mendalam,
berdaya ubah, dan bermakna.